BAB 6 KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES SIMBOLIS
BAB 6
KOMUNIKASI SEBAGAI
PROSES SIMBOLIS
A. PENGERTIAN SIMBOLIS INTERAKSIONISME
“Dimana bumi dipijak di situ langit
dijunjung”. Peng- gambaran diri manusia melalui pepatah pendek ini cukup
substansial sifatnya. Dikatakan demikian, sebab manusia pada hakikatnya adalah
makhluk yang berinteraksi. Bahkan interaksi itu tidak melulu eksklusif antar
manusia, tetapi juga inklusif dengan seluruh mikrokosmos. Termasuk interaksi
manusia dengan seluruh alam. Singkatnya, manusia selalu mengadakan interaksi.
Setiap interaksi mutlak membutuhkan sarana tertentu. Sarana menjadi medium
simbolisasi dari apa yang dimaksudkan dalam sebuah interaksi. Oleh sebab itu,
tidaklah jauh dari benar manakala para filsuf merumuskan diri manusia dalam
konsep animal simbolicum (makhluk simbolis) selain animal sociosus (makhluk
berteman, berelasi), dan konsep tentang manusia lainnya. Fokus tulisan ini
ialah diri manusia seturut perspektif teori interaksi simbolis. Teori
interaksionisme-simbolis dikembangkan oleh ke lompok The Chicago School dengan
tokoh-tokohnya seperti Goerge Herbert Mead dan George Herbert Blumer.
Menurut Blumer, teori ini berpijak pada
premis bahwa (1) manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada
pada “sesuatu” itu bagi mereka (2) makna tersebut berasal atau muncul dari
“interaksi sosial seseorang dengan orang lain”; dan (3) makna tersebut
disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat “proses interaksi sosial”
berlangsung. “Sesuatu” ini tidak mempunyai makna yang intrinsik. Sebab, makna
yang dikenakan pada sesuatu ini lebih merupakan produk interaksi simbolis. Bagi
Blumer, “sesuatu” yang disebut juga “realitas sosial”, bisa berupa fenomena
alam, artifisial, tindakan seseorang baik verbal maupun nonverbal, dan apa saja
yang patut “dimaknakan”. Sebagai realitas sosial, hubungan “sesuatu” dan
“makna” ini tidak inhe ren, tetapi volunteristrik.
Sebab, kata Blumer sebelum mem berikan
makna atas sesuatu, terlebih dahulu aktor me lakukan serangkaian kegiatan olah
mental, yakni me milih, memeriksa, mengelompokkan, membandingkan, memprediksi,
dan mentransformasi makna dalam kaitannya dengan situasi, posisi, dan arah
tindakannya.
Menurut Blumer, proses self-indication
adalah proses komunikasi pada diri individu yang dimulai dari mengetahui
sesuatu, menilainya, memberinya makna, dan memutuskan untuk bertindak
berdasarkan makna tersebut. Dengan demikian, proses self-indication ini terjadi
dalam konteks sosial di mana individu mengantisipasi tindakantindakan orang
lain dan menyesuaikan tindakannya sebagaimana dia memaknakan tindakan itu.
Dengan demikian, simbolis interaksionisme dapat didefinisikan sebagai “cara
kita menginterpretasikan dan memberi makna pada lingkungan di sekitar kita
melalui cara kita berinteraksi dengan orang lain”. Teori ini berfokus pada cara
orang berinteraksi melalui simbol yang berupa kata, gerak tubuh, peraturan, dan
peran.
• Asumsi Pokok Simbolis Interaksionisme
Ada sejumlah asumsi pokok dari teori ini, yakni (A) Individu dilahirkan
tanpa punya konsep diri. Konsep diri dibentuk dan berkembang melalui komunikasi
dan interaksi sosial. (B) Konsep diri terbentuk ketika seseorang bereaksi
terhadap orang lain dan melalui persepsi atas perilaku tersebut. (C) Konsep
diri, setelah mengalami perubahan, menjadi motif dasar dari tingkah laku. (D)
Manusia adalah makhluk yang unik karena kemampuannya menggunakan dan
mengembangkan simbol untuk keperluan hidupnya. Binatang menggunakan simbol
dalam taraf yang amat terbatas, sedangkan manusia selain menggunakan, juga
menciptakan dan mengembangan simbol. (E) Manusia beraksi terhadap segala
sesuatu tergantung bagaimana ia mendefinisikan sesuatu tersebut.
Misalnya, bila kita sudah memandang si A sebagai pembohong, maka kita
tidak akan percaya apa yang si A katakan walaupun benar. (F) Makna merupakan
kesepakatan bersama di ling- kungan sosial sebagai hasil interaksi. Sebagai
contoh, suatu produk media dianggap porno atau bukan tentu yang menilai adalah
komunitas dimana produk media tersebut didistribusikan dan dikonsumsi. Maka
dengan demikian, bisa jadi suatu produk media dianggap porno di suatu kelompok
masyarakat dan tidak porno bagi kelompok masyarakat lain.
B. KOMUNIKASI SEBAGAI PROSES INTERAKSI
SIMBOLIS
Pemahaman komunikasi dengan segala praksisnya
merupakan proses keseharian manusia. Dapat dikatakan bahwa proses komunikasi
merupakan proses kehidupan itu sendiri. Komunikasi tidak bisa dipisahkan dari
seluruh proses kehidupan konkret manusiawi. Aktivitas komunikasi merupakan
aktivitas manusiawi. Joel M. Charon dalam bukunya “Symbolic Interactionism”
mendefinisikan interaksi sebagai “aksi sosial bersama; individu-individu
berkomunikasi satu sama lain mengenai apa yang mereka lakukan dengan
mengorientasikan kegiatannya kepada dirinya masing-masing” (lihat Prof. Onong
Uchyana Efendi, MA, 2003: 390). Interaksionisme merupakan pandangan-pandangan
ter hadap realitas sosial yang muncul pada akhir dekade 1960-an dan awal dekade
1970, tetapi para pakar beranggapan bahwa pandangan tersebut tidak bisa
dikatakan baru. Stephen W. Littlejhon dalam bukunya yang berjudul “Theories of
Human Communication” mengatakan bahwa, yang memberikan dasar adalah George
Herbert Mead yang diteruskan oleh George Herbert Blumer.
1. Aliran Chicago (Chicago School) George
Herbert Mead
pada umumnya dipandang se bagai
pemula utama dari pergerakan, dan pekerjaannya (yang) pasti membentuk inti dari
Aliran Chicago. Herbert Blumer, Mead merupakan pemikir terkemuka, menemukan
istilah interaksionalisme simbolis, suatu ungkapan Mead sendiri tidak pernah
menggunakan. Blumer menga cu pada label ini sebagai “suatu sedikit banyaknya
pembentukan kata baru liar yang di dalam suatu jalan tanpa persiapan. Ketiga
konsep utama di dalam teori Mead, menangkap di dalam jabatan pekerjaan terbaik
yang di kenalnya, adalah masyarakat, diri, dan pikiran. Kategori ini adalah
aspek yang berbeda menyangkut proses umum yang sama, sosial anda bertindak.
2. Aliran Iowa Manford Kuhn dan para muridnya
walaupun mereka memelihara dasar
prinsip interaksionis, tidak mengambil dua langkah-langkah baru sebelumnya
melihat di teori yang konservatif. Yang pertama akan membuat konsep di ri lebih
nyata, yang kedua, buatan yang Anda mungkin perta ma, menjadi penggunaan dari
riset kuwantitatif. Di dalam yang area belakangan ini, aliran/mahzab Iowa dan
Chica go memisahkan perusahaan. Blumer betul-betul meng kri tik kecenderungan
dalam ilmu perilaku manusia untuk me ne rapkan; Kuhn membangun suatu titik ke
lakukan yang terbaru! Sebagai hasilnya pekerjaan Kuhn beralih le bih ke arah
analisa mikroskopis dibanding mengerjakan pen dekatan Chicago yang tradisional.
3. Kelompok dan Komunikasi Kelompok Berhubung
teori interaksionisme simbolis merupakan kajian sosial
maka perlu juga dibahas tentang
kelompok dan komunikasi kelompok. Menurut Onong Uchyana Efendi (2003: 71),
dalam ilmu sosial apakah itu psikologi, atau sosiologi, yang disebut kelompok
(group) bukan sejumlah orang yang berkelompok atau berkerumun bersama-sama di
suatu tempa t, misalnya sejumlah orang di alun-alun yang secara bersama-sama sedang
mendengarkan pidato tukang obat yang sedang mempromosikan dagangannya, atau
ibu-ibu di pa sar yang secara bersama-sama sedang mengerumuni seorang pedagang
sayur.
C.
ISTILAH POKOK TEORI SIMBOLIS INTERAKSIONISME
1. Identities (identitas), yakni pamaknaan diri dalam suatu pengambilan
peran. Bagaimana kita memaknai diri kita itulah proses pembentukan identitas,
yang ke mudian disinergikan dengan lingkungan sosial.
2. Language (bahasa), yakni suatu
sistem simbol yang digunakan bersama diantara anggota kelompok sosial. Bahasa
digunakan sebagai alat komunikasi dan re presentasi. Karenanya bahasa memiliki
empat komponen, ya kni subjek, objek, simbol, dan referen yang berkorelas
sebagai berikut: Simbol Referen Subjek Objek Simbol adalah rangkaian bunyi yang
menunjuk sesuatu. Subjek adalah pengguna dari simbol. Objek adalah sesuatu yang
ditunjuk oleh simbol. Referen adalah penghubung dari simbol, subjek, dan objek.
3. Looking glass self (cara melihat diri), yakni gambaran mental sebagai
hasil dari mengambil peran orang lain. Misalnya kita berbicara dengan atasan
atau orang tua kita, maka kita juga harus bisa memosisi kan diri kita pada
posisi atasan atau orang tua kita tersebut. Sehingga, dengan demikian kita
memperoleh gambaran tentang apa yang orang lain nilai tentang diri kita.
4. Meaning (makna), yakni tujuan dan atribut bagi sesuatu. Meaning
ditentukan oleh bagaimana kita merespon dan menggunakannya.
5. Mind (pikiran), yakni proses
mental yang terdiri dari self, interaksi, dan refleksi, berdasarkan simbol sosial
yang didapat.
6. Role taking (bermain peran), yakni kemampuan untuk melihat diri
seseorang sebagai objek, sehingga diperoleh gambaran bagaimana dia lain melihat
orang lain tersebut. Ketika kita bermain peran denga n memerankan lawan bicara
misalnya, maka kita akan memperoleh gambaran seperti apa perlakuan yang
diharapkan oleh lawan bicara kita tersebut.
7. Self-concept (konsep diri),
yakni gambaran yang kita pu nya tentang siapa dan bagaimana diri kita yang
dibentuk sejak kecil melalui interaksi dengan orang lain. Konsep diri bukanlah
sesuatu yang tetap. Misalnya jika seorang anak dicap sebagai orang yang bodoh
oleh gurunya, maka begitulah konsep dirinya berkembang, kemudian apabila di
kemudian hari guru dan te man-temannya mengatakan bahwa ia orang yang pintar,
maka konsep dirinya pun akan berubah.
8. Self-fulfilling prophecy
(harapan untuk pemenuhan diri), yakni tendensi bagi ekspektasi untuk
memunculkan respon bagi orang lain yang diantisipasi oleh kita. Masing-masing
dari kita memberi pengaruh bagi orang lain dalam hal bagaimana mereka melihat
diri mereka.
D. PEMIKIRAN GEORGE HERBERT MEAD
Ia
lahir di Massacusettes pada tahun 1863, yakni pada era perang sipil. Ayahnya
merupakan seorang menteri, namun kakeknya merupakan seorang petani miskin. Mead
menempuh kuliah di Oberlin College. Ide Mead tentang teori simbolis
interaksionisme sangat sedikit yang dibukukan, Blumer lah yang banyak
memublikasikan pemikiran Mead. Mead dianggap sebagai bapak interaksionisme
simbolis, karena pemikirannya yang luar biasa. Pemikiran Mead terangkum dalam
konsep pokok mengenai “mind”, “self” dan “society” sebagaimana dijelaskan
berikut ini (lihat Littlejohn, 1999: 157). Dia mengatakan bahwa pikiran manusia
mengartikan dan menafsirkan benda-benda dan peristiwa yang dialaminya,
menerangkan asal muasalnya dan meramalkannya. Pikiran manusia menerobos dunia
luar, se olaholah mengenalnya dari balik penampilannya. Ia juga menerobos
dirinya sendiri dan membuat hidupnya sendiri menjadi objek pengenalannya yang
disebut self yang dapat kita terjemahkan menjadi aku atau diri. Self dikatakan
Mead memiliki ciri-ciri dan status tertentu. Manusia yang ditanya siapa dia,
akan menjawab bahwa ia bernama anu, beragama anu, berstatus sosial anu, dan
lain sebagainya.
Hal lain yang membedakan manusia dengan
hewan ada lah kemampuan manusia menggunakan dan mengembangkan bahasa. Asumsi
Mead tentang bahasa sangat sederhana, yakni apabila seseorang memiliki kesamaan
respon dengan orang lain tentang suatu simbol, maka ketika itulah sudah terjadi
pertukaran makna. Simbol tidak lagi menjadi sesuatu yang bersifat privat, dan
ketika itulah terjadi bahasa.
1.
Konsep Mead tentang “Mind” Mead mendefinisikan
“mind” (pikiran) sebagai fe nomena sosial yang tumbuh dan berkembang dalam
proses sosial sebagai hasil dari interaksi. Mind dalam hal ini mi rip dengan
simbol, yakni sebagai hasil dari interaksi sosial. Hanya, mind terbentuk
setelah terjadinya percakapan diri (self-conversation), yakni ketika seseorang
melakukan percakapan diri yang juga disebut sebagai ber- pikir. Karenanya bagi
Mead, berpikir tidak mungkin terjadi jika tidak menggunakan bahasa. Konsepsi “mind”
lebih merupakan proses daripada sebuah produk. Hal ini berarti bahwa kesadaran
bukanlah hasil tangkapan dari luar, melainkan secara aktif selalu berubah dan
berkembang. Mead mengatakan bahwa, “consciousness (mind) is not given, it is
emergent”. Kesadar an (mind) tidak dikasih, tapi dicari. Dalam kaitan ini, Mead
mengelaborasi relasi bahasa dan mind. Menurutnya mind membantu bahasa
meningkatkan kapasitas: • Menentukan objek dalam lingkungan sosial, melalui
pembentukan simbol yang signifikan. • Menggunakan simbol sebagai stimulus untuk
mengha silkan respon dari orang lain. • Membaca dan menginterpretasikan gesture
orang lain dan menggunakan stimulus ini sebagai respon. • Menyediakan imajinasi
alternatif dari stimulus dan respon dari lingkungan.
2.
Konsep
Mead tentang “Self” Self, menurut Mead adalah proses yang tumbuh dalam
keseharian sosial yang membentuk identitas diri. Perkembangan self tergantung
pada bagaimana seseorang melakukan role taking (pengambilan peran) dari orang
lain. Dalam role taking kita mengimajinasikan tingkah laku kita dari sudut
pandang orang lain. Proses role taking sendiri bagi seorang anak kecil
dilakukan melalui empat tahap sebagaimana telah dijelaskan di atas. Esensi self
bagi Mead adalah reflexivity, yakni bagaimana kita merenung ulang relasi dengan
orang lain untuk kemudian memunculkan adopsi nilai dari orang lain. Ada dua
segi dari self, yang masing-masing melakukan fungsi penting dalam kehidupan
manusia, yakni “I” dan “me”. “I” yang dapat diterjemahkan sebagai “aku” meru
pakan bagian yang unik, impulsif, spontan, tidak terorganisasi, tidak
bertujuan, dan tidak dapat diramal dari seseorang. Sedangkan “me” yang
diterjemahkan denga n “daku” adalah generalized others, yang merupakan fungsi
bimbingan dan panduan. Me merupakan prilaku yang secara sosial diterima dan
diadaptasi. Baik “I” maupun “me” keduanya diperlukan untuk me lakukan hubungan
sosial. “I” merupakan rumusan sub jektif tentang diri ketika berhadapan dengan
orang lain, sedangkan “me” merupakan serapan dari orang lain, yang melalui
proses interanalisasi kemudian diadopsi untuk membentuk “I” selanjutnya.
Sehingga, dengan demikian dalam setiap interaksi akan terjadi perubahan “I” dan
“me” secara dinamis. Dalam konteks komunikasi, per ubahan tersebut menimbulkan
optimisme, yakni bagaimanapun komunikasi akan menimbulkan perubahan. Soal besar
kecilnya perubahan dan seperti apa perubahan yang diinginkan itu tergantung
pada strategi dan efektivitas komunikasi yang dilakukan.
3.
Konsep
Mead tentang “Society” “Society” menurut Mead adalah kumpulan self yang
melakukan interaksi dalam lingkungan yang lebih luas yang berupa hubungan
personal, kelompok intim, dan ko munitas. Institusi society karenanya terdiri
dari respon yang sama. “Society” dipelihara oleh kemampuan individu untuk melakukan
role taking dan generalized others.
E. PEMIKIRAN GEORGE HERBERT BLUMER
Blumer merupakan profesor di Universitas
California.
Pemikiran Blumer tentang teori interaksionisme
simbolis lebih banyak merupakan penuangan ide Mead. Blumer memulai pemikirannya
tentang teori ini dengan tiga dasar pemikiran sebagai berikut: • Manusia
berprilaku terhadap hal-hal berdasarkan makna yang dimiliki hal-hal tersebut
baginya. • Makna halhal tersebut berasal dari atau muncul dari interaksi
sosial yang pernah dilakukan dengan orang lain. • Maknamakna itu dikelola
dalam dan diubah melalu i proses penafsiran yang dipergunakan oleh orang yang
berikatan dengan hal-hal yang dijumpai.
1. Konsepsi Blumer tentang “Meaning”,
“Language”, dan “Society”
• Meaning, merupakan dasar bagi kita untuk
bertindak terhadap segala sesuatu.
• Language, makna yang tumbuh dalam
interaksi sosial
menggunakan bahasa. Penamaan simbolis
merupakan dasar bagi kelompok sosial. Perluasan pengetahuan pa da hakikatnya
merupakan perluasan penamaan.
•
Thought, atau disebut juga “minding” merupakan in - terpretasi individu atas
simbol yang dimodifikasi melalui proses berpikir seseorang. Minding merupa ka n
refleksi sejenak untuk berpikir ulang. Thought merupakan percakapan mental yang
membutuhkan role taking dengan mengambil sudut pandang orang lain. Menurut
Blumer konsepsi diri berkembang melalui interaksi simbolis melalui apa yang
disebut looking-glassself, yakni gambaran mental tentang self yang dihasilkan
dari mengambil peran bagi orang lain. Tanpa bahasa kita tidak dapat
mengembangkan konsep diri. Selanjutnya, Blumer mengatakan bahwa dalam proses
sosial yang berlaku bukanlah “you become whatever you tell yourself your are”
tetapi “you become whatever those around you tell you your are”.
Apabila diterjemahkan Anda bukan menjadi “Anda menjadi apapun apa yang
Anda katakan tentang diri Anda”, tapi “Anda menjadi apapun yang orang lain di
sekitar Anda katakan mengenai siapa Anda”. Sebagai contoh, kita tidak bisa
mengatakan bahwa kita adalah orang baik, sementara orang di sekitar kita
mengatakan bahwa kita adalah orang jahat. Dalam teori ini seseorang dikatakan
baik atau dikatakan jahat tergantung dari orang di sekitar kita.
2. Konsep Pokok Blumer tentang Teori
Simbolis Interaksionisme a) Konsep Diri Manusia bukan semata-mata organisme
yang bergerak di bawah pengaruh perangsang-perangsang, baik dari
dalam maupun dari luar, melainkan organisme
yang sadar akan dirinya (an organism having a self). Oleh karena ia seorang
diri, maka ia mampu memandang dirinya sebagai objek pikirannya sendiri dan
berinteraksi dengan dirinya sendiri. Ia mengarahkan dirinya kepada berbagai
objek, termasuk dirinya sendiri, berunding dan berwawancara dengan dirinya
sendiri.
Ia
mempermasalahkan, mempertimbangkan, menguraikan, dan menilai hal-hal tertentu
yang telah ditarik ke dalam lapangan kesadarannya, dan akhirnya ia merencanakan
dan mengorganisasikan perilakunya. Antara perangsang dengan perilakunya
tersisiplah proses interaksi dengan diri sendiri tadi. Inilah kekhasan manusia.
b) Konsep Kegiatan Oleh karena perilaku manusia dibentuk dengan proses
interaksi dengan diri sendiri, maka kegiatannya itu berlainan sama sekali
dengan kegiatan makhluk-makh luk lain. Manusia menghadapkan dirinya dengan
berbagai hal, seperti tujuan, perasaan, kebutuhan, perbuatan, dan harapan serta
bantuan orang lain, citra dirinya, cita-citanya, dan lain sebagainya. Maka, ia
merancang kegiatannya yang tidak semata-mata sebagai reaksi biologis terhadap
kebutuhannya, norma kelompoknya, atau situasinya, melainkan merupakan
konstruksinya. Adalah manusia sendiri yang menjadi konstruktor perilakunya.
c) Konsep Objek Manusia hidup di tengah-tengah
objek. Objek meliputi segala sesuatu yang menjadi sasaran perhatian manusia.
Objek bisa bersifat konkrit seperti kursi, meja, dan seterusnya, dan dapat pula
bersifat abstrak seperti kebebasan. Bisa juga pasti seperti golongan darah atau
agak kabur seperti filsafat. Inti hakikat objek tadi tidak ditentukan oleh
ciri-cirinya, melainkan oleh minat seseorang dan makna yang di kenakan kepada
objek tersebut. Jadi, menurut Blumer, tidak hanya kegiatan atau perbuatan yang
harus dilihat sebagai konstruksi, tapi juga objek. d) Konsep Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah suatu proses hubungan timba l balik yang dilakukan oleh
individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, antara kelompok de
nga n individu, antara kelompok dengan kelompok dalam kehidupan sosial. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, interaksi di definisikan sebagai hal saling
melakukan aksi, berhubungan atau saling mempengaruhi. Dengan demikian,
interaksi adalah hubungan timbal balik (sosial) berupa aksi saling mempengaruhi
antara individu dengan individu, antara individu dan kelompok, dan antara
kelompok dengan kelompok.
Comments
Post a Comment