BAB 3 KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI

BAB 3 
KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI


A. PENGERTIAN KEBENARAN 
Susahnya mendefinisikan kebenaran, sebagaimana te lah diuraikan pada pejelasan terdahulu, ibarat orang buta menjelaskan gajah. Ada orang buta yang mengatakan gajah itu panjang, karena yang ia sentuh adalah bela lai gajah. Sementara temannya yang juga buta akan me ngatakan bahwa gajah itu tipis dan lebar (menunjuk pada telinga gajah), bahkan ada pula orang buta yang mendefinisikan gajah itu lembek (merujuk pada kotoran gajah). Tentu masing-masing definisi tidak salah, namun juga tidak bisa dikatakan benar seratus persen. Kira-kira seperti itulah gambaran mendefinisikan pengertian kebenaran. Tiap ahli yang memaparkan ide tentang sudut pandang kebenaran termasuk bagaimana membuktikannya.
Secara etimologi (bahasa) kata “benar” mempunyai arti: 
1. Tidak salah, lurus, dan adil. Contohnya dalam kalimat, “hitungannya benar”. 
2. Sungguh-sungguh, tidak bohong. Contohnya dalam kalimat, “kabar itu benar”.
3. Sesungguhnya, memang demikian halnya. Contohnya dalam kalimat, “benar ia tidak bersalah, tetapi ia terlibat perbuatan ini”. 
4. Sangat, sekali. Contohnya dalam kalimat, “enak benar mangga ini”.

Sedangkan secara epistemologi (istilah), pengertian kebenaran dapat dilihat dari berbagai teori mengenai kebenaran, yang antara lain (Suhartono Suparlan, 2007: 93): 

1. Teori koherensi Menurut teori ini suatu pengetahuan, teori, per nyata an, proposisi atau hipotesis dianggap benar bila ia sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya, yakni kalau proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan sebelumnya. Jika “semua manusia pasti akan mati” adalah benar, maka “si A akan mati” adalah benar juga. 
2. Teori korespondensi Suatu pernyataan adalah benar jika ia berhubungan dengan objek yang dituju oleh pernyataan itu. Contoh, “Jakarta adalah Ibu Kota Indonesia” adalah benar karena sesuai dengan fakta. 
3. Teori pragmatis Suatu pernyataan dinilai benar jika konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi ke hidupan manusia. Contoh, “memakai helm wajib ba gi pengendara sepeda motor”, adalah benar kare na pernyataan tersebut berguna dalam kehidupan praktis.
4. Teori koherensi Menurut teori ini sesuatu dianggap benar bila ia berkait an dengan pernyataan sebelumnya yang sudah pas ti benar. Misalnya, pernyataan bahwa “presiden di Indonesia tidak dapat dijatuhkan oleh parlemen” ada lah benar karena bertalian dengan pernyataan sebe lum nya, yakni “Indonesia menganut sistem pemerin tahan presidensial”



B. KEBENARAN ILMIAH DAN KEBENARAN NON-ILMIAH 
Kebenaran yang diperoleh secara mendalam berdasar kan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah. Ke - benaran ilmiah ini dapat ditemukan dan diuji dengan pen dekatan pragmatis, koresponden, dan koheren. Berbeda de ngan kebenaran ilmiah yang diperoleh berdasarkan pe na laran logika ilmiah, ada juga kebenaran karena faktor-faktor non-ilmiah. 

  • Kebenaran karena kebetulan
  • Kebenaran karena akal sehat
  • Kebenaran agama dan wahyu
  • Kebenaran intuitif
  • Kebenaran karena trial and error
  • Kebenaran spekulasi
  • Kebenaran karena kewibawaan
  • Kebenaran karena kekuasaan

C. KEBENARAN KEFILSAFATAN
 Kebenaran kefilsafatan harus memenuhi empat aspek, yakni objek materi, forma, metode dan sistem yang terkait dengan kebenaran, dengan penjelasan sebagai berikut (lihat Suhartono Suparlan, 2007: 93-94): 
1. Objek materi, dimana filsafat mempelajari segala sesuatu yang ada, sehingga dapat kita pahami bahwa kebenaran ilmu pengetahuan filsafat bersifat umumuniversal, yang berarti tidak terkait dengan jenis-jenis objek tertentu. Misalnya, objek manusia, maka tidak di batasi pada manusia etnis, golongan, dan zaman ter tentu. Jadi, kebenaran terkait pada manusia, harus pula pencakup semua golongan manusia, apa pun etnisnya dan kapan pun zamannya. Dengan demikian, kebenaran kefilsafatan lebih cenderung bersi fat universal. 
2. Objek forma, kebenaran ilmu pengetahuan filsafat itu bersifat metafisika, yakni meliputi ruang lingkup mulai dari konkret-khusus sampai kepada yang abstrak-uni versal. Contohnya adalah macam-macam Bagian 1 Kajian Filsafat: Suatu Pengantar 72 segitiga yang sebenarnya memiliki sifat yang sama, yaitu tiga garis lurus yang saling berpotongan sehingga membentuk tiga sudut yang kesemuanya berjumlah 180 derajat. Itulah acuan kebenaran filsafat yang abstrak-metafisika. Hal ini pun berlaku bagi fenomena ma nusia yang pluralistis. Bagaimanapun manusia itu beraneka ragam yang kesemuanya memiliki ciri-ciri khas.
 3. metode, kefilsafatan terarah pada pencapaian pengetahuan esensial atas setiap hal dan pengetahuan eksis tensial daripada segala sesuatu dalam keterikatan yang utuh (kesatuan).
 4. sistem, kebenaran bersifat dialektis, yakni senantiasa terarah kepada keterbukaan bagi masuknya ide-ide ba ru dan pengetahuan-pengetahuan baru yang semakin memperjelas kebenaran.

D. KEBENARAN SEBAGAI NILAI FUNDAMENTAL 
Louis Alvin Day dalam bukunya yang berjudul “Ethics in Media Communication”, 2006: 78 mengatakan bah wa lawan dari kebenaran adalah bohong (lying), penipuan (deception), dan ketidakjujuran (dishonesty). De ception menurutnya adalah “pesan komunikasi yang di sengaja agar orang lain mendapatkan pemahaman yang salah, atau agar mereka meyakini apa yang kita sendiri tidak yakin akannya”. Deception, dengan demikian diha silkan tidak hanya dari ucapan, tapi juga perilaku, gerak tubuh, hingga sebuah senyum. Bahkan pada kondisi ter ten tu, menahan informasi merupakan bagian dari Deception. Sedangkan bohong (lying) merupakan subkategori dari deception dan meliputi komunikasi tentang infor- Bab 3 Kebenaran dalam Etika dan Filsafat Komunikasi 73 masi yang salah dimana komunikator sendiri mengetahui bahwa informasi tersebut adalah salah. Menurut Day kategori terakhir banyak dilakukan oleh praktisi media, walaupun pada banyak kasus mereka sendiri menyadarinya. Komitmen terhadap kebenaran merupakan salah satu nilai fundamental dalam kehidupan manusia, yang telah ada sejak zaman dahulu kala. Immanuel Kant, misalnya mengatakan bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang harus ditegakkan, apapun resiko yang ada. Bahkan Socrates rela dihukum mati demi mempertahankan kebebasan berbicara sebagai sebuah norma kebenaran. Sehingga dengan demikian, sejatinya kebenaran sebagai sebuah norma adalah bukan hal yang baru. Tidak seperti de mokrasi misalnya, norma ini tentu saja lahir dalam ma - syarakat modern. Dalam konteks Indonesia, bahkan, de - mokrasi sebagai norma kehidupan bernegara baru mun - cul pasca reformasi tahun 1998. 

E. MAKNA PENTING KEBENARAN 
Dalam teori interaksi simbolis hakikat manusia adalah makhluk relasional. Setiap individu pasti terlibat relasi dengan sesamanya. Tidaklah mengherankan bila kemudian teori interaksi simbolik segera mengedepan bila dibandingkan dengan teori-teori sosial lainnya. Ala san nya ialah diri manusia muncul dalam dan melalui interaksi dengan yang di luar dirinya. Interaksi itu sendiri membutuhkan simbol-simbol tertentu. Simbol itu biasanya disepakati bersama dalam skala kecil pun skala besar. Simbol-misalnya bahasa, tulisan, dan simbol lainnya yang dipakai-bersifat dinamis dan unik. 

F. DIKOTOMI KEBENARAN DALAM KOMUNIKASI 
Menurut Yasraf Amir Piliang (1999), jaringan komunikasi yang berskala global telah menggiring ke arah proses komunikasi dan arus informasi yang berlangsung cepat dan padat. Peningkatan tempo kehidupan di dalam skema globalisasi informasi telah menciptakan kebergantungan tinggi pada berbagai teknologi informasi dan komunikasi. Akan tetapi, teknologi informasi dan komunikasi yang kecepatannya bertumbuh secara eksponensial (semakin cepat, padat, mini) telah mengondisikan pola komunikasi yang juga semakin cepat, ringkas, instan, dan padat. Dalam dorongan kecepatan yang tak kuasa dikendalikan, komunikasi dan informasi menjadi sebuah teror (terror of speed), yang menghasilkan kecemasan (anxiety) dan kondisi panik (panics): kecepatan pergantian citra televisi yang tak sanggup dicerna; serbuan pesan-pesan e-mail, blog, atau spam Internet yang tak mampu dimaknai; kecepatan pergantian perangkat lunak yang tak mampu diikuti; gelombang pergantian gaya dan gaya hidup yang menjadikan orang selalu merasa kurang (lack) dan ketinggalan zaman.

Menuju Teori Disinformasi 
Media komunikasi di abad informasi-digital berkembang ke arah sebuah titik, yang di dalamnya terjadi pelen cengan fungsi komunikasi, kesimpangsiuran tanda, pe ngaburan makna, pendistorsian realitas, dan penisbian kebenaran. Komunikasi tak lagi punya tujuan pasti; informasi tak lagi punya makna yang jelas. Informasi berkem bang ke arah sifat superlatif, yang diproduksi dalam por si berlebihan. Realitas komunikasi menciptakan pula kondisi kemus tahilan interpretasi karena apa yang ditampilkan sebagai sebuah kebenaran (truth) boleh jadi tak lebih dari sebuah kebohongan (misalnya, citra teroris). Kini tak ada lagi batas pasti antara kebenaran dan kepalsuan. Orang dihadapkan pada kesulitan besar dalam memisah kan antara kebenaran dan kepalsuan. Kepalsuan yang dikemas dengan teknik imagologi yang cerdas melalui manipulasi computer graphic, kini dapat tampil sebagai kebenaran yang meyakinkan. Karenanya, kebenaran dalam media massa menjadi hal yang krusial karena kebenaran versi media kadang kala berbeda dengan kebenaran versi masyarakat. Hal ini karena aplikasi kebenaran dalam media dipengaruhi oleh lingkungan yang melingkupi media, seperti pemilik modal dan pengiklan.

Kedua, untuk mendukung kebenaran dalam media se orang jurnalis perlu melakukan upaya pencerdasan dengan cara mendorong pemahaman audiensi. Pemaham an audiens kadangkala dibatasi oleh waktu dan space yang di berikan terhadap suatu liputan. Dengan demikian, maka suatu laporan mesti berisi sejumlah informasi yang mem beri pemahaman bagi audiens. Dengan demikian seorang jurnalis mesti bisa memosisikan diri antara, membuka semua hal atau sama sekali tidak me-report tentang hal tersebut. Kondisi tersebut menjadi lebih rumit bila seorang jurnalis kemudian mendapat tekanan dari kekuatan politik atau kekuatan ekonomi 
Ketiga, suatu laporan mesti bersifat fair dan seimbang. Prinsip ini menghindari bias yang sangat mungkin tim bul dalam suatu laporan. Seorang reporter haruslah menguasai materi yang dilaporkan sehingga ia akan tahu ke tika laporannya bias. Alvin Day mengatakan bahwa, re por tase yang bias sangat berpotensi muncul dalam situasi krisis, seperti pada peristiwa 9/11 di New York, dima na jur nalis sendiri tidak mengetahui apa sebenarnya yang ter jadi ketika itu.

Dikotomi lain pada media adalah kebenaran dalam iklan. Kebenaran dalam iklan, maka sejatinya tidak lebih dari logika ekonomi liberal, yang berujung pada akumulasi keuntungan. Iklan mengkonstruksi kebenarannya sendiri untuk kemudian digandakan secara massal dan terus-menerus, sehingga pada akhirnya masyarakat melihat kon struksi kebenaran yang ditawarkan oleh iklan merupakan kebenaran itu sendiri. Iklan menjungkirbalikkan apa yang sebelumnya merupakan kebutuhan (need) bagi masyarakat untuk kemudian diubah menjadi keinginan (want), begitu juga sebaliknya. Contoh kecil misalnya, persoalan makan daging ayam yang sejatinya merupakan kebutuhan (need) tapi oleh iklan dicitrakan sedemikian ru pa bahwa makan yang sehat, nyaman dan menggembi ra kan, dan karenanya merupakan makan yang benar, jus tru ada pada KFC atau McDonald misalnya. Publik ti dak lagi melihat makan daging ayam sebagai sebuah kebu tuhan, tapi menjadi keinginan. 

Comments

Popular Posts