BAB 4 HAKIKAT FILSAFAT KOMUNIKASI

BAB 4 
HAKIKAT FILSAFAT KOMUNIKASI


A. HAKIKAT FILSAFAT KOMUNIKASI
 Proses komunikasi dapat dilihat dalam dua perspektif besar, yaitu perspektif psikologis dan mekanis. Perspek tif psikologis dalam proses komunikasi hendak memperlihatkan bahwa komunikasi adalah aktivitas psikologi sosial yang melibatkan komunikator, komunikan, isi pe san, lambang, sifat hubungan, persepsi, proses decodin g, dan encoding. Perspektif mekanis memperlihatkan bahwa pro ses komunikasi adalah aktivitas mekanik yang dilakukan oleh komunikator, yang sangat bersifat situasional dan kontekstual. Dari proses komunikasi yang begitu kompleks dan tidak sederhana tersebut, refleksi komunikasi diperlukan untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan komprehensif. Refleksi proses komunikasi tersebut sering dimasukkan dalam disiplin filsafat komunikasi. Menurut Prof. Onong Uchjana Effendi (2003: 321), filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (verstehen) secara lebih mendalam, fundamental, metodologis, sistematis, analitis, kritis dan komprehensif teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode-metodenya.

B. PEMIKIRAN RICHARD L. LANIGAN 
Richard L. Lanigan secara khusus membahas analisis filosofis atas proses komunikasi. Filsafat dalam disiplin ilmu komunikasi biasanya meletakkan titik refleksinya pada pertanyaan-pertanyaan: 
• Apa yang aku ketahui? (masalah ontologi atau metafisika)
• Bagaimana aku mengetahuinya? (masalah epistemologi) 
• Apakah aku yakin? (masalah aksiologi)
• Apakah aku benar? (masalah logika) 
1. Metafisika 
Richard L. Lanigan menyatakan bahwa metafisika adalah studi tentang sifat dan fungsi teori tentang realitas. Dalam metafisika, ada beberapa hal yang direfleksikan. Hal-hal itu adalah sifat manusia dan hubungannya dengan alam, sifat dan fakta kehidupan manusia, problema pilihan manusia, dan soal kebebasan pilihan tindakan manusia. Dalam hubungannya dengan teori komunikasi, me tafisika berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut: 
• Sifat manusia dan hubungannya secara kontekstual dan in dividual dengan realita dalam alam semesta. 
• Sifat dan fakta bagi tujuan, perilaku, penyebab, dan aturan. 
• Problema pilihan, khususnya kebebasan versus determinisme pada perilaku manusia. 

2. Epistemologi 
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin, nature, methods, and limits of human knowledge). Bab 4 Hakikat Filsafat Komunikasi.

Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh yang da lam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Metode il miah adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang dan mapan, sistematik dan lo gis. Pada dasarnya metode ilmiah dilandasi: 
• Kerangka pemikiran yang logis
• Penjabaran hipotesis yang merupakan deduksi dan ke rangka pemikiran. 
• Verifikasi terhadap hipotesis untuk menguji kebenarannya secara faktual.

3. Aksiologi
 Aksiologi adalah cabang ilsafat yang ingin merefleksikan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan di peroleh. Lanigan berpendapat bahwa aksiologi adalah studi etika dan estetika. Dapat dikatakan bahwa aksiologi adalah kajian tentang nilai manusiawi dan bagaimana cara mengekspresikannya. Dalam hubungannya dengan filsafat komunikasi, La nigan mengatakan bahwa aksiologi, kategori keempat dari filsafat, merupakan studi etika dan estetika. Ini berarti, aksiologi adalah suatu kajian terhadap apa itu nilainilai manusiawi dan bagaimana cara melembagakannya. Jelaslah bagaimana pentingnya bagi seorang komunikator ketika ia mengemas pemikirannya sebagai isi pesan dengan bahasa sebagai lambang, untuk terlebih dahulu me lakukan pertimbangan nilai (value judgement) apakah pe san yang ia komunikasikan etis atau tidak, estetis atau tidak. 

4. Logika
Logika adalah cabang filsafat yang menelaah asas dan dasar metode penalaran secara benar dalam hal ini cara berkomunikasi secara lebih baik dan benar. Logika penting dalam berkomunikasi karena pemikiran harus di komunikasikan dan yang dikomunikasikan merupakan putusan sebagai hasil dari proses berpikir. Logika berkaitan dengan telaah terhadap asas-asas dan metode penalaran secara benar (deals with study of the principles and methods of correct reasoning).
Dalam membangun perspektif ilmu, Denzin menganjurkan pada tiga dasar elemen, antara lain epistemologi, ontologi, dan metodologi (Denzin dan Lincoln, 1994: 99). Sedangkan menurut Suriasumantri (2000: 103), per spek tif ilmu didasarkan pada elemen ontologi (apa), epistemologi (bagaimana), dan aksiologi (untuk apa). Berdasarkan penyataan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa pembentukan perspektif baru didasarkan pada empat elemen di atas, yaitu: 
• Epistemologi, merupakan proses untuk mendapatkan ilmu. Hal-hal apa yang harus diperhatikan un tuk mendapatkan ilmu yang benar. Cara, teknik, dan sarana apa yang membantu dalam memperoleh ilmu. 
• Ontologi, berkaitan dengan asumsi­asumsi mengenai objek atau realitas yang diteliti. 
• Metodologis, berkaitan dengan asumsi-asumsi menge nai bagaimana cara memperoleh pengetahuan me nge nai suatu objek pengetahuan. 
• Aksiologis berkaiatan dengan posisi value judgment, etika, dan pilihan moral peneliti dalam suatu penelitian. Kegunaan atau manfaat ilmu dalam kehidupan ma syarakat. 

C. PEMIKIRAN STEPHEN W. LITTLEJOHN 
Komunikasi menurut Littlejohn dapat digambarkan dalam matrik persilangan antara tingkah laku sumber pe san dan tingkah laku penerima pesan,


Penjelasan dari masing-masing kotak adalah sebagai berikut: 
1A. Tingkah laku dengan gejala tidak terasa seperti Anda menguap, tetapi tak seorang pun yang melihatnya. (Kebanyakan orang sepakat jika hal ini bukanlah komunikasi. Atau setidaknya, hal ini bukan komunikasi interpersonal, tetapi mungkin dapat disebut sebagai komunikasi intrapersonal). 
1B. Gejala-gejala terasa yang terjadi sambil lalu seperti Anda menguap, lalu teman Anda menyadari bahwa Anda lelah meskipun ia tidak memerhatikan Anda pa da saat itu. 
1C. Gejala yang diterima ketika itu juga. Seperti Anda menguap lalu teman Anda bertanya “Apakah cerita saya membosankan?”
2A. Pesan-pesan nonverbal yang tidak terasa, seperti Anda melambaikan tangan kepada teman Anda, tetapi ia tidak melihat Anda. 
2B. Pesan-pesan nonverbal yang bersifat sambil lalu se perti teman Anda menyatakan “Maaf saya tidak mem ­ balas lambaian tanganmu, tetapi saat itu saya sedang memikirkan sesuatu dan tidak menyadari kalau kamu melambai ke arahku sampai saya berbelok di ujung jalan itu”. 
2C. Pesan-pesan nonverbal yang diterima ketika itu juga. Se perti Anda melambaikan tangan ke arah teman Anda dan teman Anda balas melambaikan tangan ke arah Anda. 
3A. Pesan­pesan verbal yang tidak terasa, Anda mengirim surat ke teman Anda tetapi suratnya hilang selama dalam pengiriman. 
3B. Pesan­pesan verbal yang terjadi sambil lalu. Anda meng omeli putri Anda karena telah menjadikan ruang an berantakan dan meskipun ia tahu Anda sedang berbicara dengannya, namun ia tidak benar-benar sedang memerhatikannya. 
3C. Pesan-pesan verbal yang diterima ketika itu juga. Anda berpidato di depan sekelompok orang yang memang sangat ingin mendengar apa yang harus Anda ucapkan.

• Receiver model. Menurut model ini kotak nomor 1A, 2A, dan 3A bukan termasuk komunikasi. Hal ini didasarkan alasan bahwa pengirim pesan walaupun hanya mengirimkan gejala (symptom), bukan pesan (message) maka keduanya harus dihitung sebagai bagian dari komunikasi sepanjang yang dikirimkan sender diterima oleh receiver. 
• Sender-receiver model. Menurut model ini kotak nomor 1A, 1B, dan 1C serta kotak nomor 2A dan 3A bu kanlah termasuk komunikasi. Hal ini didasarkan argumentasi bahwa dari sisi sender tidak mengirimkan pesan. Sedangkan kotak nomor 2A dan 3A bukan termasuk komunikasi karena receiver tidak mene rima. 
• Communication model. Menurut model ini, hanya ko tak nomor 1A yang bukan termasuk komunikasi, sementara kotak yang lain adalah komunikasi. Ala sa n dari model ini adalah bahwa pada kotak nomor 1A sender tidak mengirimkan pesan, sementara pada saat yang sama receiver tidak menerima symptom. 

a. Epistemologi
 Merupakan cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan, atau bagaimana seseorang mengetahui apa yang mereka klaim sebagai pengetahuan. Karena keanekaragam an disiplin yang ada dalam studi komunikasi dan juga akibat perbedaan pemikiran, maka isu-isu epistemologi menjadi penting. Epistomologi pada hakikatnya me - nyangkut asumsi mengenai hubungan antara peneliti dan yang diteliti dalam proses untuk memperoleh pengeta huan mengenai objek yang diteliti. Kesemuanya menyangkut teori pengetahuan (theory of knowledge) yang melekat dalam perspektif teori dan metodologi. 

b. Ontologi 
Merupakan cabang filsafat yang berhubungan denga n alam, lebih sempitnya alam benda-benda di mana ki ta be ru paya untuk mengetahuinya. Pada hakikatnya on tology berkaitan dengan asumsi mengenai objek atau realitas sosial yang diteliti. Fungsi positif perspektif dapat menyusun teori-teori komunikasi sehingga memudahkan di dalam penggunaan teori-teori komunikasi sesuai dengan fokus dan landasan pikiran. 

c. Aksiologi 
Yakni, cabang filsafat yang mengkaji nilai-nilai. Bagi ilmuwan komunikasi ada tiga persoalan aksiologi,

D. PEMIKIRAN WHITNEY R. MUNDT 
Whitney R. Mundt tidak memperhitungkan filsafat ko- munikasi sebagai filsafat yang sebenarnya. Filsafat komunikasi menampilkan kekuatan media dan prinsi p-fungsi media berikut hubungannya dengan negara. Mundt dalam filsafatnya menyatakan penjelasan keterpaut an pe merintah dengan jurnalistik di mana keseimbangan ke kuatan selalu bergeser (Onong: 2003).

Comments

Popular Posts