BAB 13 KONFLIK KEPENTINGAN DAN BUDAYA POPULER
BAB 13
KONFLIK
KEPENTINGAN DAN BUDAYA POPULER
A. KONFLIK KEPENTINGAN
Bila seseorang menerima hibah, uang, honor,
gaji dari seorang/badan yang tidak mempunyai niat baik dan akan dipakai sebagai
alat memperlebar kekuasaan atau niat tidak terhormat lainnya, seperti untuk
memperoleh keuntungan lebih besar melalui tangan-tangan yang mempunyai
kekuasaan birokrasi, maka ini disebut conflict of interest. Konflik kepentingan
merupakan isu akuntabilitas. Novel Ali (dalam Suara Merdeka, 7 Januari 2007),
me - ngatakan bahwa komunikasi itu kepentingan. Tiap orang yang berkomunikasi,
punya kepentingan. Karena komunikasi identik dengan kepentingan, atau karena
setiap sistem dan proses komunikasi mengisyaratkan kepentingan, maka (di balik)
komunikasi cenderung selalu terbuka konflik kepentingan. Tidak sedikit pakar
yang berkeyakinan terdapatnya “ideologi’’ sebagai landasan komunikasi.
’’Ideologi’’ komunikasi punya bermacam performance, baik kemudian yang disebut
kebenaran, kejujuran, keadilan, keaslian, obyektivitas, faktual dan aktual,
maupun yang dikenal BAB 13 KONFLIK KEPENTINGAN DAN BUDAYA POPULER Bagian 3
Kajian Tematis: Etika Komunikasi 288 sebagai kebohongan, kemunafikan,
ketidakadilan, kepalsuan, subyektivitas, serta fakta semu. Performance
“ideologi’’ komunikasi diuraikan terdahulu, mendorong pakar komunikasi memiliki
sikap yang mendua dalam mengkaji proses komunikasi. Artinya, jika terjadi
konflik kepentingan sebagai akibat berlangsungnya proses komunikasi tertentu,
pakar komunikasi umumnya akan memandang fenomena itu sebagai sesuatu yang biasa
terjadi. Khususnya di tengah plus-minus setiap simbol atau di tengah “perang’’
simbolis dalam kemasan obyektivitas pihak tertentu, berhadapan dengan kemasan
subyektivitas pihak lain. Sekalipun demikian, pakar komunikasi biasanya akan
memberi rambu pemahaman atas konflik kepentingan dalam setiap proses
komunikasi.
B. PENGERTIAN KONFLIK
Robbins (1996), dalam “Organization Behavior”
men jelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat
adanya ketidaksesuaian antara dua pen dapat (sudut pandang) yang berpengaruh
atas pihakpi hak yang terlibat baik pengaruh positif maupun negatif. Sedangkan
menurut Luthans (1981), konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya
kekuatan yang saling bertentangan. Kekuatan-kekuatan ini bersumber pada ke
inginan manusia. Istilah konflik sendiri diterjemahkan da lam beberapa istilah,
yaitu perbedaan pendapat, persaing an, dan permusuhan. Perbedaan pendapat tidak
selalu berarti perbedaan keinginan. Oleh karena konflik bersumber pada
keinginan, maka perbedaan pendapat tidak selalu berarti kon- Bab 13 Konflik
Kepentingan dan Budaya Populer 289 flik. Persaingan sangat erat hubungannya
denga konflik karena dalam persaingan beberapa pihak menginginkan hal yang sama
tetapi hanya satu yang mungkin mendapatkannya. Persaingan tidak sama dengan
konflik namun mudah menjurus ke arah konflik, teratuma bila ada persaingan yang
menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan aturan yang disepakati.
Permusuhan bukanlah konflik karena orang yang terlibat konflik bisa saja tidak
memiliki rasa permusuhan. Sebaliknya orang yang saling bermusuhan bisa saja
tidak berada dalam keadaan konflik. Konflik sendiri tidak selalu harus
dihindari karena tidak selalu negatif akibatnya. Berbagai konflik yang ringan
dan dapat dikendalikan (dikenal dan ditanggulangi) da pat berakibat positif
bagi mereka yang terlibat maupu n bagi organisasi.
C. JENIS-JENIS KONFLIK
1.
Konflik Intrapersonal Konflik intrapersonal
adalah konflik seseorang de nga n dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada
waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi
sekaligus.
2.
Konflik interpersonal adalah pertentangan antar
seseorang dengan orang lain karena pertentangan kepentingan atau keinginan. Hal
ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja,
dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat
penting dalam perilaku organisasi. Karena kon- Bab 13 Konflik Kepentingan dan
Budaya Populer 291 flik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari
beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan memengaruhi proses pencapaian
tujuan organisasi tersebut.
3.
Konflik antar-Individu dan Kelompok Hal ini
seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk
mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
Sebagai contoh dapat dikatakan bahwa seorang individu dapat dihukum oleh
kelompok kerjanya karena ia tidak dapat mencapai norma-norma produktivitas
kelompok dimana ia berada.
4.
Konflik antara Kelompok dalam Organisasi yang
Sama Konflik ini merupakan tipe konflik yang banyak terjadi di dalam
organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan
pekerja—manajemen merupakan dua macam bidang konflik antar kelompok.
5.
Konflik antara Organisasi Contoh seperti di
bidang ekonomi dimana Amerika Serikat dan negara-negara lain dianggap sebagai
bentuk konflik, dan konflik ini biasanya disebut dengan persaingan.Konflik ini
berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya pengembangan
produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan
pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien
D. PENGERTIAN KONFLIK KEPENTINGAN
Menurut
Wikipedia, konflik kepentingan adalah sua tu keadaan sewaktu seseorang pada
posisi yang memerlu kan kepercayaan, seperti pengacara, politikus, eksekutif
atau direktur suatu perusahaan, memiliki kepentingan profesional dan pribadi
yang bersinggungan. Per - singgungan kepentingan ini dapat menyulitkan orang
tersebut untuk menjalankan tugasnya. Suatu konflik kepen tingan dapat timbul
bahkan jika hal tersebut tidak me nimbulkan tindakan yang tidak etis atau tidak
pantas. Suatu konflik kepentingan dapat mengurangi keperca yaan terhadap
seseorang atau suatu profesi. Konflik kepentingan menyebabkan benturan antara
loyalitas profesional dan kepentingan lain yang akan mengurangi kredibilitas
agen moral. Koflik biasanya mun cul dari peran yang kita mainkan dalam suatu
kelom pok sosial. Konflik muncul sebagai tarikan antara keberpihakan pada nilai
partikular dan kewajiban secara umum. Tidak seperti nilai kebenaran, pada
konflik kepentingan tidak ada satu peraturan pun yang melarang hal-hal yang
potensial memunculkan konflik kepentingan. Konsultan komunikasi, sebagai
contoh, secara legal tidak dilarang untuk menangani klien dua pihak yang
bertarung di pemilihan kepala daerah dalam waktu yang bersamaan. Namun secara
etis, hal demikian akan memunculkan kon- flik kepentingan.
E. SUMBER KONFLIK KEPENTINGAN
Konflik
tidak begitu saja muncul dari langit. Mereka mempunyai penyebab-penyebab.
Karena pendekatan Anda untuk memecahkan suatu konflik sebagian besar akan
ditentukan oleh penyebab-penyebabnya, Anda perlu mencari tahu sumber dari
konflik tersebut. Jika kita ingin menghindari konflik, atau paling tidak
menguranginya, maka kita harus mengetahui sumber konflik kepentingan. Banyak
orang terjerat konflik loyalitas tanpa menyadari adanya pelanggaran nilai etis
di dalamnya. Padahal kehidupan ini penuh dengan jebakan dilema loyalitas, dan
ji kapun kita bisa mengetahui perangkap tersebut dalam banyak kasus kita tidak
berdaya untuk menghindarinya. Riset menunjukkan bahwa konflik mempunyai
beberapa penyebab, dan secara umum dapat dibagi ke dalam tiga kategori:
perbedaan komunikasi, struktural, dan kepribadian.
1.
Hubungan yang Menimbulkan Konflik (conflicting
relationships)
Tentu sulit bagi seseorang untuk
mengabdi pada dua tuan. Inilah yang terjadi bila kita memiliki dua hubungan
yang sama-sama memerlukan loyalitas serupa. Independensi kita akan menjadi
terbatas. Agen iklan atau praktisi PR misalnya, tugas utamanya adalah terhadap
klien. Namun jika terjadi konflik kepentingan, maka pelayanan kepada klien
tersebut menjadi terbatas. Contohnya ada- Bagian 3 Kajian Tematis: Etika
Komunikasi 296 lah ketika perusahaan PR menangani klien dari perusahaan
perminyakan, namun pada saat yang sama ia juga memiliki klien dari organisasi
pelestarian lingkungan. Ten tu hal ini akan menimbulkan konflik kepentingan.
2.
Pemberian dan Hadiah (gifts and perks)
Praktisi komunikasi bertanggung
jawab terhadap audiensnya, dan jika ia menerima hadiah, cendera mata dan
pemberian lain yang mengandung kepentingan tersembunyi (vested interests), maka
hal tersebut akan memunculkan keraguan terhadap obyektivitas praktisi
komunikasi tersebut. Walaupun pemberian gratis tersebut berupa hal-hal yang
ringan seperti makan siang gratis, namun ji ka dilakukan terus-menerus, maka
hal tersebut akan me ngi kis independensi profesi. Di mana publik, munculnya
sumber konflik sama berbahaya dibanding konflik itu sendiri. Wacana
“pengharaman” menerima hadiah memang ter jadi belakangan ini. Sebelumnya,
penerimaan hadiah bu kanlah sesuatu yang diharamkan. Namun seiring dengan
perubahan zaman, hal tersebut kemudian menjadi norma etis yang baru. Banyak
organisasi profesi telah membuat kode etik yang ketat terkait penerimaan hadiah
dari pihak lain. Dalam hal ini malah banyak organisasi wartawan yang
menyamaratakan antara pemberian (gift) dengan sogokan (bribe). Keduanya, dengan
sopan namun tegas, harus ditolak demi independesi dan pertimbangan etis.
Seorang purist (orang yang mempertahankan kemurnian prinsip) bahkan akan
menolak pemberian secangkir kopi dari klien. Namun demikian, pemberian yang
paling sulit untuk ditolak, dan karenanya menjadi sorotan da- Bab 13 Konflik
Kepentingan dan Budaya Populer 297 lam kacamata etis, adalah perjalanan gratis,
seperti produser film atau musik yang melakukan tour ke sejumlah daerah untuk
promosi film atau musik mereka. Produser lalu menyediakan perjalanan gratis
bagi wartawan, kritikus film, pejabat PR, dan praktisi komunikasi lainnya untuk
mengikuti tour tersebut.
3.
Checkbook Journalism Checkbook
journalism terjadi ketika media
membayar narasumber, sehingga media yang bersangkutan akan memperoleh hak
eksklusif untuk menampilkan narasumber tersebut. Checkbook journalism menjadi sorotan
etis karena terjadi pertentangan konflik, sebagai akibat adanya kendali dari
pihak tertentu (narasumber) dalam tam pilan pesan. Kasus yang menonjol dalam
sejarah ada lah ketika CBS membayar Haldeman, pegawai senior man tan Presiden
Richard Nixon, yang pada tahun 1975 dibayar sebesar US$100.000 untuk
membeberkan skandal Watergate. Sembilan tahun kemudian CBS bahka n membayar
rekaman wawancara dengan Nixon yang berdurasi 90 menit seharga US$500.000.
Persaingan komunikasi dengan mengandalkan faktor finansial tentu bukanlah
persaingan yang sehat dan fair. Sebaliknya, persaingan yang sehat dan fair
justru me nekankan pada aspek kualitas, akurasi, kecepatan, dan coverage.
4.
Hubungan Personal
Faktor berikutnya yang sangat berpotensi
memunculkan konflik kepentingan namun sangat sulit dihindari adalah hubungan
personal. Bagaimanapun praktisi komunikasi adalah juga manusia yang niscaya
mengembang- Bagian 3 Kajian Tematis: Etika Komunikasi 298 kan hubungan sosial,
tak terkecuali dengan klien. Maka, akan sulit jika kemudian ia harus
mengkomunikasikan pe san yang bersinggungan dengan seseorang yang memiliki
hubungan personal. Maka, dalam konteks ini bisa dipahami jika ada sejumlah
praktisi komunikasi yang memilih untuk menghindar dari kedekatan personal. Ma
ka, dalam konteks ini bisa dipahami, misalnya, bahwa sejumlah
organisasi/perusahaan menerapkan larangan adanya kedekatan famili diantara
karyawannya.
5.
Partisipasi Publik
Dilema konflik kepentingan juga muncul
dari kenyataan bahwa praktisi komunikasi juga bagian dari publik secara umum.
Dengan demikian, ada interaksi antara diri nya dengan masyarakat dimana ia
berada.
F. MEDIA DAN KONFLIK KEPENTINGAN
Konflik kepentingan pada media terkait dua
pihak, yakni penguasa dan pengusaha. Media yang berafiliasi atau dimiliki oleh
pengusaha atau pejabat tertentu pasti memiliki konflik kepentingan, yakni
apakah akan berpihak ke publik ataukah berpihak pada penguasa/pengusaha yang
notabene sebagai pemilik. Jika media massa dibiarkan menjadi aparatus kekuatan
sosial-politik, maka seluruh materi pelayanannya akan senantiasa harus
dikonfirmasikan terlebih dahulu dengan berbagai interest politik dari politik
yang bersangkutan. Akibatnya, keunggulan media tersebut akan bersifat
subordinated dengan pamrih politik. Padahal, antara keduanya secara hakiki
sangat berbeda.
G. PENDEKATAN TERHADAP KONFLIK KEPENTINGAN
Sejatinya
tidak ada solusi yang tuntas bagi penyelesaian konflik kepentingan. Namun
demikian, Spiegel (1994) menjelaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan
dalam penanganan konflik, yakni:
1.
Berkompetisi
Tindakan
ini dilakukan jika kita mencoba memaksakan kepentingan sendiri di atas
kepentingan pihak lain. Pilihan tindakan ini bisa sukses dilakukan jika situasi
saat itu membutuhkan keputusan yang cepat, kepentingan salah satu pihak lebih
utama dan pilihan kita sangat vital. Hanya perlu diperhatikan situasi
menang-kalah (win-win solution) akan terjadi disini. Pihak yang kalah akan
merasa dirugikan dan dapat menjadi konflik yang ber kepanjangan. Tindakan ini
bisa dilakukan dalam hubungan atasan-bawahan, dimana atasan menempatkan
kepentingannya (kepentingan organisasi) di atas kepentingan bawahan.
2.
Menghindari Konflik
Tindakan
ini dilakukan jika salah satu pihak menghindari dari situasi tersebut secara
fisik ataupun psikologis. Sifat tindakan ini hanyalah menunda konflik yang
terjadi. Situasi menang kalah terjadi lagi disini. Menghindari konflik bisa
dilakukan jika masing-masing pihak mencoba untuk mendinginkan suasana,
membekukan konflik untuk sementara. Dampak kurang baik bisa terjadi jika pada
saat yang kurang tepat konflik meletus kembali, ditambah lagi jika salah satu
pihak menjadi stres karena merasa masih memiliki utang menyelesaikan persoalan
tersebut.
3.
Akomodasi
Yaitu,
jika kita mengalah dan mengorbankan beberapa kepentingan sendiri agar pihak lain
mendapat keuntungan dari situasi konflik itu. Disebut juga sebagai self- Bab 13
Konflik Kepentingan dan Budaya Populer 305 sacrifying behavior. Hal ini
dilakukan jika kita merasa bahwa kepentingan pihak lain lebih utama atau kita
ingi n tetap menjaga hubungan baik dengan pihak tersebut. Pertimbangan antara
kepentingan pribadi dan hubungan baik menjadi hal yang utama di sini.
4.
Kompromi
Tindakan ini dapat dilakukan jika kedua belah
pihak merasa bahwa kedua hal tersebut sama-sama penting dan hubungan baik
menjadi yang utama. Masing-masing pihak akan mengorbankan sebagian
kepentingannya untuk mendapatkan situasi menang-menang (win-win solution)
5.
Berkolaborasi
Menciptakan
situasi menang-menang dengan saling bekerja sama. Pilihan tindakan ada pada
diri kita sendiri dengan konsekuensi dari masing-masing tindakan. Jika terjadi
konflik pada lingkungan kerja, kepentingan dan hubungan antarpribadi menjadi
hal yang harus kita pertimbangkan.
Comments
Post a Comment