BAB 12 STEREOTIP DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
BAB 12
STEREOTIP DALAM ETIKA
DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
A.
PENGERTIAN STEREOTIP
Orang Jawa digambarkan sebagai orang
yang halus, menerima apa adanya dan pemaaf, hingga ketika kaki Orang Jawa
diinjak pun mereka akan bilang “maaf, kaki Anda berdiri di atas kaki saya”.
Sedangkan orang Batak digambarkan sebagai pekerja keras, temperamen, dan lugas
mengatakan sesuatu sejelas mungkin. Orang Sumbawa seringkali diidentikkan
dengan pola hidup yang konsumtif, sehingga ketika akan berkunjung ke suatu
tempat, maka tempat yang pertama kali ia rencanakan untuk di kunjungi adalah
pusat perbelanjaan, mal, dan lain sebagainya. Cap yang dilekatkan pada etnis
Bima lain lagi, mental perantau yang dimiliki etnis ini menyebabkan mereka
tersebar di hampir semua daerah. Ini membuat mereka cenderung mencari kawan
atau keluarga yang memiliki latar belakang etnis yang sama saat tiba di tempat
baru. Kegemaran minum kopi sambil bersenda gurau menjadi milik suku Sasak.
Saking gemarnya dengan minuman ini, saat anda berkunjung ke kediaman atau ru
mah orang Sasak, maka hampir pasti anda akan menemukan minuman BAB 12 STEREOTIP
DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI Bab 12 Stereotip dalam Etika dan Filsafat
Komunikasi 259 yang merupakan komoditas primadona negara Brasil ini. Sehingga
di mana pun mereka berada, pastilah tempat minum kopi yang dicari untuk pertama
kali. Sekilas, anekdot di atas memberikan gambaran bahwa manusia dalam menilai
orang lain, terutama yang bukan bagian atau diluar komunitasnya, disadari atau
tidak seringkali terjebak dalam stereotip dan overgeneralisasi budaya.
B.
MENGAPA MUNCUL STEROTIP
Ada
sejumlah kondisi dimana stereotip merupakan hal yang tak dapat dihindarkan
(inevitable), yakni: Bagian 3 Kajian Tematis: Etika Komunikasi 262
1. Manusia
butuh sesuatu untuk menyederhanakan realitas kehidupan yang bersifat kompleks.
2. Manusia
butuh sesuatu untuk menghilangkan rasa cemas (anxiety) ketika berhadapan dengan
sesuatu yang baru, manusia lalu menggunakan stereotip.
3. Manusia
butuh cara yang ekonomis untuk membentuk gambaran dari dunia di sekitarnya.
4. Manusia
tidak mungkin mengalami semua kejadian, karenanya manusia mengandalkan
informasi dari pihak lain (media) sebagai jendela dunia. Maka, terjadilah
duplikasi stereotip.
Menurut
Alvin Day, karena sifat manusia yang selalu mencari kesamaan mendasar atas
segala sesuatu tersebut menyebabkan stereotip, dalam kacamata komunikasi,
bukanlah hal yang mengejutkan jika kemudian stereotip beranak pinak dalam
content hiburan dan informasi massal. Stereotip sendiri merupakan perilaku yang
sudah dilakoni oleh manusia sejak zaman purbakala. Namun stereotip sebagai konsep
modern baru digagas oleh Walter Lippmann dalam tulisannya yang berjudul “public
opinion” yang dipublikasikan pada tahun1922. Menurut Lippmann, stereotip
merupakan cara ekonomis untuk melihat dunia secara keseluruhan. Hal ini
dikarenakan individu tentu tidak dapat sekaligus mengalamai dua event yang
berbeda dalam tempat yang berbeda secara bersamaan. Karenanya manusia kemudian
menyandarkan pa da testimoni orang lain untuk memperkaya pengetahuannya tentang
lingkungan sekitar. Media, sudah pasti me-rupakan jendela yang sangat penting
untuk memberikan pengalaman yang hampir seperti aslinya sehingga dapat ber- Bab
12 Stereotip dalam Etika dan Filsafat Komunikasi 263 fungsi sebagai telinga dan
mata untuk mengamati alam dimana kita tidak akan bisa mengalaminya secara
langsung. Media, dengan demikian merupakan katalis (pemercepat) budaya
sekaligus pengaruh yang tak terhindarkan terhadap cara pandang kita akan dunia.
Dalam masyarakat egaliter, stereotip
dipandang sebagai sesuatu yang tidak fair. Penggunaan stereotip akan menutup
ruang untuk melihat individu dengan segala keunikan dan kapabilitas
masing-masing. Sedangkan dala m tataran kelompok, penggunaan stereotip akan
menghi- Bab 12 Stereotip dalam Etika dan Filsafat Komunikasi 265 langkan hak
individu untuk menentukan diri sendiri, di mana hak ini merupakan nilai dasar
dari pembentukan suatu masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
stereotip memiliki nilai negatif, yakni:
1. Melanggar nilai-nilai kemanusiaan,
yakni kejujuran dan ketulusan.
2. Tidak fair, karena meniadakan
perbedaan dan potensi individu.
3. Stereotip mengarahkan pada
kebohongan.
4. Stereotip pada media mengakibatkan
audiens berpikiran sempit.
Namun demikian, apa yang membuat stereotip merupakan musuh
kultural yang susah untuk dihilangkan ada lah kenyataan bahwa kadangkala
stereotip memang ber dasarkan kebenaran realita. Dengan bahasa lain, tidak
semua stereotip adalah salah. Salah satu contoh ada -lah laporan dari Rand
Corporation, sebuah rekanan pe nelitian Pentagon, yang menggambarkan istri
tentara sebagai kumpulan wanita yang anggotanya memiliki tipi kal muda, tidak
dewasa, pasangan muda kelas bawah yang secara finansial susah, dan memiliki
kesulitan dalam me ngontrol tendensi.
C.
PERAN STEREOTIP DALAM KOMUNIKASI
Perkembangan media massa bagi manusia
sempat me numbuhkan perdebatan panjang tentang makna dan dampak media massa
pada perkembangan masyarakat. Pemahaman tentang masyarakat massa sempat
mengguncang persepsi anggota masyarakat mengenai dampak media massa yang cukup
signifikan dalam mengubah tata sosial masyarakat. Dalam perkembangan teori
komunikasi massa, konsep masyarakat massa mendapat relasi kuat dengan produk
budaya massa yang pada akhirnya akan mempengaruhi bagaimana proses komunikasi
dalam konteks masyarakat massa membentuk dan dibentuk oleh budaya massa yang
ada. Bukan kebetulan bahwa dua pemahaman tentang ma syarakat massa dengan
budaya massa mempunyai titik permasalahan yang menggantung. Pertanyaan kritis
yang perlu ditampilkan adalah sejauh mana hubungan an tara masyarakat massa
dengan produk budaya massa yang ada? Apakah memang di antara dua konsep
tersebut mempunyai hubungan antar-entitas yang berdiri sendiri atau memang dua
konsep itu mempunyai hubungan yang sa ling mengandaikan? Media massa sendiri
dalam masyarakat mempunyai beberapa fungsi sosial, yaitu fungsi pengawasan
media, Bab 12 Stereotip dalam Etika dan Filsafat Komunikasi 267 interpretasi,
transmisi nilai dan hiburan, dengan penjelasan sebagai berikut ini:
1. Fungsi pengawasan media adalah
fungsi yang khusus menyediakan informasi dan peringatan kepada ma - sya rakat
tentang apa saja di lingkungan mereka. Media massa memperbarui pengetahuan dan
pemaha man manusia tentang lingkungan sekitarnya.
2. Fungsi interpretasi adalah fungsi
media yang menjadi sarana memproses, menginterpretasikan, dan meng o- relasikan
seluruh pengetahuan atau hal yang diketahui oleh manusia.
3. Fungsi transmisi nilai adalah
fungsi media untuk menyebarkan nilai, ide dari generasi satu ke generasi yang
lain.
4. Fungsi hiburan adalah fungsi media
untuk menghibur manusia. Manusia cenderung untuk melihat dan memahami peristiwa
atau pengalaman manusia sebagai sebuah hiburan.
D. STEREOTIP RAS MINORITAS
Di Amerika Serikat, ras minoritas
terkait dengan masyarakat kulit hitam dan suku Indian, yang sering digam-
Bagian 3 Kajian Tematis: Etika Komunikasi 270 barkan sebagai masyarakat kelas
dua, kriminalis dan terbelakang. Stereotip lainnya adalah penggambaran orang
Islam sebagai teroris. Hal ini terkait terutama setelah pe-ristiwa 9/11.
Beberapa kalangan berpendapat bahwa sekarang ini sangat mendesak untuk
menghentikan penodaan terhadap dunia muslim melalui penggambaran stereotip yang
tidak adil. Meningkatnya kecenderungan untuk mengaitkan antara terorisme dan
Islam justru sangat merusak perdamai an internasional. Perdana Menteri (PM)
Malaysia sa at itu, Abdullah Ahmad Badawi, mengungkapkan hal itu ketika
menyampaikan pidatonya pada Sidang Umum PBB, di New York tahun 2004 menegaskan,
“kita harus menghilangkan asosiasi Islam dengan kekerasan, kemiskinan, dan
tidak punya harga diri. Sebab, kenyataannya masalah terorisme ini tidak ada
kaitannya sama sekali dengan Islam. Persoalan itu juga tidak secara eksklusif
adalah menjadi milik kaum muslim. Kita perlu menjernihkan kebingungan atas
dikaitkannya masalah-masalah yang dihadapi negara-negara berpenduduk mayoritas
muslim dengan agama Islam,” ungkap Badawi sambil mencontohkan negaranya sendiri
sebagai bukti bahwa Islam tidak berseberangan dengan modernisasi dan demokrasi.
Contoh bahwa Islam tidak berseberangan denga n demokrasi juga disampaikan Menlu
RI pada kesempatan yang sama. “Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar,
Indonesia telah membuktikan bahwa Islam bisa menjadi benteng bagi demokrasi dan
keadilan sosial,” kata Menteri Luar Negeri RI ketika itu, Hassan Wirajuda. Di
Indonesia, stereotip sering terkait dengan suku Tiong Hoa, sebagai kelompok
yang tidak memiliki na- Bab 12 Stereotip dalam Etika dan Filsafat Komunikasi 271
sio-nalisme, licik, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Warga
Tionghoa masih belum lepas dari ste reotip tertentu yang dilekatkan kepada
mereka. Pembe ritaan pers yang diskriminatif semakin memperkuat pen citraan
buruk terhadap warga Tionghoa. Masyarakat Tionghoa lekat dengan stereotip
licik, pelit, tidak mau mem baur, dan sifat-sifat negatif lainnya.
E.
STEREOTIP WANITA
Media
sering menggambarkan wanita sebagai sosok yang kurang rasional, bodoh, namun
kadang juga sebagi pribadi yang tegas dan mandiri. Pada iklan wanita
digambarkan sebagai “super mom”, yakni pintar mengurus rumah tangga, menjadi
panutan bagi anak, memuaskan suami, dan menyenangkan mertua. Terjadinya
ketidakadilan gender dalam pemberitaan perempuan di media massa tidak bisa
dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. Perempuan dicitrakan sebagai
pilar rumah tangga yang bergelut dengan tugas utama dari sumur, kasur, sampai
ke dapur. Sejumlah stereotip pun lantas menempel pada perempuan dan laki-laki
berdasarkan jenis kelamin. Ada semacam pemakluman bahwa perempuan adalah
emosional, bodoh, penakut, cengeng, dan laki-laki adalah sebaliknya. Upaya
menghapuskan pemberitaan yang sangat menyudutkan perempuan itu bukan hal mudah.
Penggunaan kata ‘menggagahi’ untuk kata memerkosa, misalnya, tidak hanya salah,
tetapi juga merupakan jurnalisme yang buruk karena ada unsur manipulasi.
Stereotip lain yang melekat pada wanita adalah stereotip janda sebagai sosok
yang tidak baik. Wiwik Kar yono, penulis novel Pacarku Ibu Kostku, mengakui
adanya anggapan bahwa janda itu kerap haus akan cinta dan seks sehingga wajar
saja jika keberadaannya sering direndahkan. “Saya bukan stereotip negatif
janda, seper- Bagian 3 Kajian Tematis: Etika Komunikasi 276 ti yang banyak
dikira orang,” katanya (Kompas, 30 Desember 2004). Bagi Wiwik yang kini
kehilangan suami, tidak mudah menjadi janda. Terkadang, kebiasaannya merokok
malah disalahartikan oleh orang lain. Ada yang menganggapnya bukan perempuan
baik-baik. Bahkan, se bagai ibu indekos yang menjalin hubungan istimewa de ngan
anak indekosnya, ada yang menganggap Wiwik melakukan itu sebagai pemuas seks.
“Tidak semua janda haus seks. Jangan samakan semua orang,” ujarnya. Alasan
untuk merokok yang dikemukakan perempuan misalnya, sangat mungkin berbeda dari
mereka yang laki-laki. Laki-laki membayangkan bahwa dengan merokok, maka mereka
bisa dianggap sudah dewasa, tidak lagi anak kecil, dan bisa memasuki kelompok
teman sebaya sekaligus kelompok yang mempunyai ciri gaya ter tentu, yaitu
merokok. Lain halnya dengan perempuan. Merokok dianggap bukan sesuatu yang
lumrah dan lazim dilakukan oleh perempuan, karenanya perempuan yang merokok
dianggap sebagai ciri khas yang akan membedakan mereka dari perempuan-perempuan
lain yang tidak merokok. Pada beberapa kelompok masyarakat, pe rempuan perokok
bahkan kerap dihubungkan dengan ste reotip buruk dan mendiskreditkan—bukan
perempua n baik-baik, urakan dan sebagainya. Keberanian untuk merokok ini akhir
nya menjadi sesuatu yang membanggakan dan memuaskan, baik bagi laki-laki maupun
perempuan. Stereotip lain yang ada pada wanita adalah soal kecantikan.
Kecantikan yang identik dengan perempuan be rekor pada munculnya kebutuhan akan
produk kecan tikan. Ataukah sebaliknya kebutuhan untuk tampil cantik justru
sengaja dimunculkan? Yang jelas beragam Bab 12 Stereotip dalam Etika dan
Filsafat Komunikasi 277 jenis produk kecantikan kini hadir untuk memenuhi kebu
tuhan perempuan akan penampilan cantik, sehingga tak terhindarkan jika
perempuan harus memilih satu di antara sekian banyak merek yang ditawarkan.
Apakah memang harus memilih?
F.
STEREOTIP ORANG DENGAN ORIENTASI
SEKSUAL MENYIMPANG
“Menjadi
muda dan gay kini bukanlah hal yang tabu”, merupakan slogan yang kini
didengungkan oleh televisi sejak dekade 90-an. Hal ini sekaligus menegaskan
bahwa industri hiburan kini tidak mempermasalahkan homoseksualitas sebagai
pengecualian. Namun demikian, hingga kini homoseksual masih digambarkan oleh
media dan masyarakat sebagai kejahatan dan karenanya tidak boleh diberi ruang
untuk berkembang. Hal yang sama juga terjadi pada lesbian. Lesbian ada - lah
perempuan yang mencintai perempuan. Lesbian tertarik secara seksual terhadap
perempuan lain dan pe rasaan seksual mereka terhadap perempuan lain itu nor mal
adanya serta wajar bagi mereka. Lesbian menga takan mereka merasa lebih dekat
secara emosi dan kejiwaan serta lebih menyukai hubungan intim dengan perempuan.
Menurut Bab 12 Stereotip dalam Etika dan Filsafat Komunikasi 283 Kamilia Manaf,
Koordinator Institut Pelangi Perempuan (lihat www.satupelangi.com), kira-kira 1
dari 10 orang mungkin lesbian atau gay, dan banyak perempuan yang tenar dalam
sejarah adalah lesbian. Ada guru, dokter, pengacara, pekerja pabrik, polisi,
politikus, menteri, bintang film, artis, ibu, suster, sopir truk, model, dan
penulis novel yang lesbian. Ada orang kulit putih, kulit hitam, Asia, Hispanik,
dan orang Indian yang lesbian. Mereka bisa saja orang Yahudi, Katolik,
Protestan, Buddha, atau Muslim. Lesbian ada yang kaya, ada juga yang miskin,
buruh kasar atau kelas menengah, muda atau tua. Ada lesbian yang berada dalam
pernikahan secara heteroseksual. Ada juga lesbian yang cacat. Padahal dalam
konteks kebebasan, maka lesbian dan gay adalah pilihan. Pernyataan-pernyataan
yang sering diangkat bahwa menjadi seorang gay atau lesbian adalah penyakit
atau abnormal, menyebabkan individu-individu pencinta sesama jenis kerap
terganggu dengan orientasi seksual yang dimilikinya dan seringkali berusaha
untuk menyukai lawan jenisnya atau dengan kata lain ber usaha untuk menjadi
seorang heteroseksual. Selain itu, perasaan-perasaan, seperti tidak disukai,
cemas, dan sedih menjadi permasalahan yang harus dihadapi hampir tiap harinya.
Konflik-konflik diri ini yang kemudian menyebabkan perasaan kesepian, malu, dan
depresi. Semua itu begitu dirasakan dampaknya terutama oleh remaja gay dan
lesbian yang dilaporkan tiga kali lebih mungkin men coba untuk bunuh diri
dibanding teman-temannya yang mencintai lawan jenis. Kenyataan ini kemudian
juga me nim bulkan peningkatan jumlah alkoholisme dan pemakaian zat terlarang
lain pada gay dan lesbian remaja.
G.
STEREOTIP
AGAMA
Stereotip tentang agama diantaranya
adalah pelabelan Islam sebagai agama teror. Paus Benedictus XVI misalnya pernah
mengatakan bahwa makna jihad dalam Islam dan penyebaran Islam dengan pedang
(Kompas, 16 September 2006). Kontan, sejumlah pemimpin Islam mengecam keras dan
menganggapnya sebagai anti-Islam. Meski sudah ada klarifikasi dari Vatikan,
kemarahan Bab 12 Stereotip dalam Etika dan Filsafat Komunikasi 285 umat Islam
tetap berlangsung. Padahal, pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu hanya
mengutip pernyataan seorang kaisar Kristen Ortodoks abad ke-14, Kaisar Manuel
II Palaeologus. Bahwa Islam disebarkan oleh pedang, ini adalah stereotip usang
yang sudah dibantah orientalis sekelas Bernard Lewis. Ia mengatakan, tidak
mungkin umat Islam berperang dengan tangan kanan memegang pedang, tangan kiri
memegang Al-Quran karena Al-Quran adalah ki tab suci yang hanya bisa dipegang
tangan kanan. Hingg a kini stereotip Islam dan kekerasan masih problematis.
Stereotip ini kian menguat setelah kasus peledakan WTC pada 11 September.
Ditambah kasus-kasus lain, ter masuk isu terorisme di Indonesia melalui
serangkaian peledakan bom, stereotip ini seolah tak terhindarkan. Padahal,
pelaku serangkaian aksi kekerasan adalah kelompok minoritas yang sama sekali
tidak mewakili mainstream umat Islam. Dengan demikian, stereotip itu tidak bisa
digeneralisasi. Stereotip menjadi problem krusial dalam masyarakat yang
majemuk. Kasus-kasus konflik dan ketegangan sosial sering dilatarbelakangi
kuatnya stereotip mengenai kelompok lain.
H.
MELAWAN STEREOTIP
Produksi
pesan yang ditujukan bagi pelanggengan dis kriminasi dan prejudice tidak dapat
dibenarkan atas pertimbangan etika. Setidaknya ada tiga pendekatan terhadap hal
ini, yakni:
1. Deontologis Aliran yang digagas oleh Immanuel Kants
ini menekankan pada pelaksanaan tugas (duty-based) dari tiap in- Bagian 3
Kajian Tematis: Etika Komunikasi 286 dividu, sehingga rasisme dan prejudice
bukan lagi sebagai pertimbangan universalitas standar sikap. Deontologis
selanjutnya memeriksa motif yang ada pada agen moral, tanpa melihat konsekuensi
yang spesifik digariskan oleh stereotip.
2. Teleologis Aliran ini disebut juga konsekuensialis,
yakni menekankan pada konsekuensi dari sebuah keputusan. Teleologis tidak
melihat motif penyampaian pesan, karena bagi aliran ini belum tentu pesan yang
disampaikan adalah berasal dari kemurnian moral. Bagi aliran ini, stereotip
adalah tindakan yang tidak adil sekaligus menyerang segmentasi sosial,
karenanya stereotip mesti ditolak. Yang diperlukan adalah pertimbangan sisi
positif dan sisi negatif dari penyampaian gambaran suatu kelompok. 3. Golden
Mean Pendekatan golden mean sangat berguna ketika karakter yang distereotipkan
justru merepresentasikan beberapa individu dalam suatu kelompok (seperti sosok
gay yang flamboyan atau gambaran ibu rumah tangga tradisional). Dalam kondisi
seperti ini, praktisi komunikasi harus berhati-hati, yakni tidak menggunakan
gambaran yang ada untuk menilai keseluruhan kelompok, namun juga tetap
mengapresiasi diversitas individu. Praktisi komunikasi harus berusaha menjaga
keseimbangan antara individu dan kelompok dimana individu tersebut berada.
Comments
Post a Comment