BAB 1 PENGERTIAN, PERKEMBANGAN, DAN MASALAH DASAR FILSAFAT


BAB 1 

PENGERTIAN, PERKEMBANGAN, DAN MASALAH DASAR FILSAFAT



A. PENGERTIAN FILSAFAT 
Secara etimologi atau asal usul bahasa, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, “philosophia”, yang merupakan penggabungan dua kata yakni “philos” atau “philein” yang berarti “cinta”, “mencintai” atau “pencinta”, serta kata “sophia” yang berarti “kebijaksanaan” atau “hikmat”. Dengan demikian, secara bahasa, “filsafat” memiliki arti “cinta akan kebijaksanaan”. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan, artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. 


B. PERKEMBANGAN FILSAFAT
Manusia, masyarakat, kebudayaan, dan alam sekitar memiliki hubungan yang erat. Keempatnyalah yang telah menyusun dan mengisi sejarah filsafat dengan ma singmasing karakteristik yang dibawanya. Berdasar ke empat hal tersebut juga, pada umumnya para filsuf sepakat untuk membagi sejarah filsafat menjadi 4 tradisi besar, yakni filsafat India, Cina, Islam, dan Barat.
  1.  Filsafat India, Filsafat India berpangkal pada keyakinan bahwa ada kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos. Harmoni ini harus disadari supaya dunia tidak dialami sebagai tempat keterasingan, sebagai penjara. Seorang anak di India harus belajar bahwa ia karib dengan semua benda, dengan dunia sekelilingnya, bahwa ia harus menyambut air yang mengalir dalam sungai, tanah subur yang memberi makanan, dan matahari yang terbit. Orang India tidak belajar untuk menguasai dunia, melainkan untuk berteman dengan dunia (lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, 2004: 27-37). 
  2. Filsafat Cina, Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat Cina, yakni harmoni, toleransi, dan perikemanusiaan. Selalu dicarikan keseimbangan, harmoni, suatu jalan tengah an ta ra dua ekstrem: antara manusia dan sesama, antara ma nusia dan alam, antara manusia dan surga. Toleransi kelihatan dalam keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang sama sekali berbeda dari pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan pluralitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Ke-udian, perikemanusiaan. Pemikiran Cina lebih antroposentris (me nempatkan manusia sebagai pusat kajian) daripada filsafat India dan Barat. Manusialah yang selalu merupakan pusat filsafat Cina. Filsafat Cina dibagi atas empat periode besar (lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, 2004: 27-37). 
  3. Filsafat Islam, Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM, Alek sander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya keluar Macedonia, tetapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerahdaera h yang dimasukinya. Untuk itu, ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya, dengan penduduk setempat. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafah dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah, dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani, seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir, An takia di Suria, Selopsia serta Jundisyapur di Irak, dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran (lihat Harun Nasution: 1992).
  4. Filsafat Barat a. Zaman Kuno Filsafat Barat kuno dimula i dar i filsafat pra-sokra tes di Yunani. Seja rah filsafat Barat mulai Milete, di Asia kecil, sekitar tahun 600 SM. Pada waktu itu, Milete merupakan kota yang penting, di mana banyak jalur perdagangan bertemu di Mesir, Italia, Yunani, dan Asia. Juga ba nyak ide bertemu di sini, sehingga Milete juga menjadi suatu pusat intelektual (pembahasan lebih lanjut tentang Filsafat Barat, lihat Darji Darmodiharjo dan Shidarta, (2004: 58-78)). Pemikir-pemikir besar di Milete lebih-lebih menyibukkan diri dengan filsafat alam. Mereka mencari suatu unsur induk (archè) yang dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu. Menurut Thales (± 600 SM), airlah yang merupakan unsur induk ini. Menurut Anaximander (± 610-540 SM), segala sesuatu berasal dari “yang tak terbatas”, dan menurut Anaximenes (± 585-525 SM) udara-lah yang merupakan unsur induk segala sesuatu. Pythagoras (± 500 SM) yang mengajar di Italia Selatan, adalah orang pertama yang menamai diri “filsuf”. 
C. MASALAH-MASALAH DASAR FILSAFAT 

1. Logika sebagai Landasan Penalaran
 Istilah “logika” digunakan pertama kali oleh Zeno. Logika dapat berarti suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Tapi biasanya logika dilihat sebagai sebuah studi tentang struktur atau susunan pembahasan rasional. Logika merupakan cabang filsafat yang mempelajari, menyelidiki proses atau cara berpikir yang benar, yang sehat dan patokan mana yang mesti dipatuhi agar pernyataan yang diambil adalah sah. Bagian 1 Kajian Filsafat: Suatu Pengantar 26 Dalam logika ada empat hukum dasar logika. Empat hukum dasar logika itu disebut juga postulat-postulat universal semua penalaran. Keempat hukum dasar logika adalah: hukum identitas, kontradiksi, tiada jalan tengah, dan cukup alasan. “Hukum identitas” menyebutkan bahwa sesuatu adalah sama (identik) dengan dirinya sendiri. Menurut hukum ini, A adalah A dan bukan yang lainnya. Contoh lain hukum ini, korupsi adalah korupsi. Korupsi adalah bukan yang lainnya. Dalam kondisi yang tidak logis, hukum identitas sering kali terjadi penyimpangan dalam praktiknya. Korupsi misalnya, dibelokkan menjadi salah prosedur, sehingga seolah-olah sesuatu yang pada awalnya korupsi kemudian bukan lagi menjadi korupsi karena salah prosedur. Dengan demikian, korupsi bukan lagi korupsi, atau dengan kata lain A bukan lagi adalah A. Penyimpangan seperti ini banyak terjadi dalam kelompok sosial yang tidak mengedepankan logika dalam kehidupan sehari-hari. 

2. Epistemologi sebagai Landasan Pengetahuan
 Epistemologi adalah cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai bentuk pengenalan dasar pengetahuan, hakikat, dan nilainya. Secara tradisional, yang menjadi pokok permasalahan dalam epistemologi ada lah sumber, asal mula dan sifat dasar pengetahuan, yak ni bidang, batas, dan jangkauan pengetahuan.

3. Metaisika sebagai Landasan Memahami Hakikat 
Metafisika adalah satu cabang filsafat yang mempelajari dan memahami mengenai penyebab adanya segala sesuatu sehingga hal tertentu menjadi ada. Metafisika bisa berarti upaya untuk mengkarakterisasi eksistensi atau realitas sebagai suatu keseluruhan. Istilah ini juga berarti sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau menyelidiki apakah hakikat yang berada di balik realitas. Studi ini amat kompleks dan cenderung melampaui rasionalitas atau melampaui jangkauan akal budi. Persoalan pertama yang harus dijawab metafisika ada lah apakah realitas atau ada yang begitu beraneka ragam? Mana yang lebih benar atas sebuah realitas atau bermacam-macam realitas? Apakah eksistensi yang sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada itu merupakan realitas yang tampak atau tidak? Ada banyak teori yang mencoba menjawab masalah itu, dua diantaranya adalah teori idealisme dan materialisme. 

4. Metode Filsafat 
Metode filsafat menunjuk pada tujuan agar studi filsafat dapat dijelajahi secara tuntas dan tujuan penyeledikan filsafat tercapai (Suhartono Suparlan, Ph.D. 2007: 87). Melihat lingkup dan jangkauan studi filsafat, maka kesan yang pertama kali muncul adalah bahwa filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang tidak mungkin bisa ada secara aktual. Hal ini mengingat bahwa lingkup dan jangkauan studi filsafat itu melampaui kemampuan akal pikiran manusia itu sendiri. Akal manusia memiliki potensi yang terbatas, sementara lingkup dan jangkauan filsafat tampak tidak terbatas. Karenanya, hanya dengan cara dan metode tertentu, maka pengetahuan kefilsafatan mungkin bisa diraih. Namun demikian, di antara sekian banyak metode dalam filsafat, dalam kesempatan ini kita hanya membahas beberapa saja. 

D. ISU-ISU FILOSOFIS STUDI KOMUNIKASI 
Stephen W. Littlejohn dalam bukunya yang berjudul Theories of Human Communication (1999: 31), menjelaskan bahwa terdapat sejumlah isu filosofis tentang studi komunikasi, yang disebut sebagai “metateori”. Sesuai dengan namanya, imbuhan “meta” merujuk pada spekulasi yang menyertai sebuah teori. Metateori mengajukan sejumlah pertanyaan menyangkut sebuah te ori, yakni apa yang dibahas, bagaimana pengamatan dilakukan dan bagaimana suatu teori terbentuk. Dengan kata lain, metateori adalah teori dari sebuah teori. Selanjutnya, Littlejohn membagi isu-isu filosofis studi komunikasi menjadi tiga tema, yakni epistemologi, ontologi, dan aksiologi.

Pertanyaan: Perkembangan filsafat di Indonesia?

Comments